Picture
“Que Sera Sera, Whatever Will be Will be” begitulah bagian lagu yang penulis dengarkan dari sebuah stasiun televisi. Terlihat dalam video klip lagu tersebut beberapa anak perempuan yang berkebutuhan khusus menyanyi bersama di sebuah pentas di sekolah mereka. Orang tua mereka yang hampir semua ibu - ibu menyaksikan dengan muka berseri, bahagia seakan melihat sebuah harapan kuat yang memancar dari anak-anak perempuan mereka. Perempuan dan sekolah mungkin menjadi hal yang biasa di era ini. Bahkan di kampus SSE dan bahkan hampir di semua sekolah di Indonesia saat ini, siswa dan guru perempuan lebih banyak jumlahnya. Betapa pentingkah pendidikan bagi perempuan sehingga banyak orang menyuarakan agar kaum ini terjamah oleh sistem belajar mengajar?

Dalam tulisan ini penulis menggunakan istilah perempuan, meskipun tema kegiatan menyebutkan wanita. Wanita dalam ‘kerata basa’ atau istilah jawa merupakan singkatan dari ‘wani ditata’ yang artinya berani atau bersedia dan mau diatur. Sedangkan perempuan berdasarkan perpecahan katanya per-empu-an, dengan kata empu nya, mengandung makna sangat dalam. Empu pada masa lampau memiliki jabatan yang cukup terhormat, dipercaya warga kampung karena memiliki kepandaian atau keahlian khusus. Sehingga per-empu-an memberikan gambaran sosok yang patut dihormati karena memiliki kepandaian atau keahlian yang telah dikaruniakan kepadanya (Assa, 2008).

Kalimat pertama di atas, menunjukkan sebuah ketidakmengertian atau misteri masa depan. ‘Whatever will be will be’, mengandung makna pula bahwa kita harus selalu siap untuk menghadapi hari depan. Tentu saja, segala kesiapan kita untuk masa depan harus kita rajut mulai saat ini. Perempuan tidak bisa dipungkiri, memiliki peranan penting untuk roda kehidupan. Bagaimana tidak, perempuan memegang beberapa identitas sekaligus yang jelas membutuhkan keahlian dan pengorbanan yang berbeda bahkan lebih dari laki-laki. Terlepas dari masa lalu, kini, atau masa yang akan datang, perempuan akan memiliki peranan yang besar.

Sebagai seorang anak, istri, ibu, dan warga masyarakat, perempuan memiliki ’setting’ atau pemorsian tindakan dan pikiran yang berbeda. Setting - setting tersebut dapat diatur dengan baik apabila perempuan mengenyam pendidikan yang layak dan berkualitas. Mungkin ada beberapa konteks yang memposisikan perempuan dalam prioritas kedua setelah laki-laki. Bahkan hingga masa kini pun masih juga banyak perempuan yang disepelekan, terutama di desa. Ada orang desa bilang, “Buat apa perempuan sekolah tinggi-tinggi, nantinya juga di rumah cuma macak, masak, manak (berias, memasak, dan melahirkan). Sekeji itukah perempuan di mata mereka? Penulis berkata tidak, mereka belum mengerti essensi dari pendidikan.

Pendidikan yang baik sering dikategorikan sebagai pendidikan yang tinggi. Padahal yang tinggi belum tentu baik. Perempuan sangat perlu mendapatkan pendidikan yang baik. Meski secara kasar jika kita memakai istilah 3M orang desa tadi, pendidikan yang baik perlu untuk meningkatkan kualitas macak, masak, dan manak. Maksudnya dalam 3M itu jika kita lihat lagi, macak, masak, manak hanya mewakili sebagian kecil peran perempuan, atau kata lain yang menggambarkannya adalah bahwa perempuan merupakan ’sumber kehidupan’.

Dunia literature bahasa Inggris menggambarkan sebuah pulau dengan kata ganti ’she’, seorang perempuan. ‘She’ di sini dikarenakan sebuah pulau merupakan sumber kehidupan untuk setiap insan yang ada di dalamnya, bahkan di sekitarnya. Perempuan mendapat kepercayaan untuk menjadi ’sumber kehidupan’ yang juga sama-sama tidak tahu akan apa yang terjadi di masa depan. Oleh sebab itu, pendidikan diperlukan oleh perempuan untuk dapat menjadi ’sumber kehidupan’ yang berkualitas di masa depan.

Pertanyaannya adalah, pendidikan seperti apa yang diperlukan perempuan? Dahulu, perempuan dididik hanya untuk melayani kehidupan rumah tangganya. Mereka diajari menjahit, memasak, membatik, dan beberapa jenis pekerjaan rumah lainnya. Namun saat ini, keterampilan seperti itu tidaklah cukup untuk menjadi sebuah ’sumber kehidupan’. Kemampuan dan kecerdasan lain seperti pengetahuan umum, teknologi, sains, bahkan soft skills pun diperlukan perempuan. Tidak ada batasan porsi pendidikan bagi perempuan maupun laki-laki.

‘Sumber kehidupan’ memiliki makna bahwa segala yang ada di sekitarnya bergantung pada hal itu. Jika sumber itu mampat atau tidak memancarkan hal yang dibutuhkan oleh apa yang ada di sekitarnya, sesuatu yang buruk pasti terjadi untuk mereka yang ada di sekelilingnya. Pendidikan sangat penting untuk perempuan. Hanya pendidikan yang dapat membuat ’sumber kehidupan’ itu terus memancar sehingga dapat menghadapi masa depan yang tidak pernah kita ketahui apa yang akan terjadi.‘Whatever will be will be’ but we have ’she’, we will be happy.

Jakarta, April 2011
Ditulis untuk Kartini Dewantara Celebration
Sampoerna School of Education
gambar:  http://mayasoeharto.blogspot.com/2011/01/anak-perempuan.html

 


Comments




Leave a Reply